florestoday.com, Labuan Bajo - Labuan Bajo menyimpan banyak berjuta keindahan dan keajaiban yang seakan sulit diterima oleh mata. Pulau padar yang mendunia, Pantai Merah yang hanya ada 7 di dunia hingga hewan yang purba yang telah hidup dari 400 juta tahun lalu dan masih lestari hingga kini, Komodo.

florestoday.com, Labuan Bajo - Keindahan dan eksotisme pulau Flores memang sudah tak diragukan lagi. Lanskap alam yang menarik, garis pantai yang istimewa, panorama yang tiada duanya, keragaman budaya yang amat kaya hingga wisata air terjun yang tak kalah indahnya.

florestoday.com, Labuan Bajo - Pink Beach atau yang juga dikenal dengan nama Pantai Merah Muda terletak di kawasan Taman Nasional Komodo. Pantai ini menjadi salah destinasi yang tak boleh terlewatkan jika berkunjung ke Labuan Bajo.

 

florestoday.com, Bali - Bentuknya kerucut, mirip rumah Honai di Papua atau mirip juga rumah adat di Tanjania, Afrika. Atapnya yang ditutupi daun lontar hampir menyentuh tanah, dengan ketinggian hampir 15 m. Itulah keunikan rumah adat Mbaru Niang di kampung Wae Rebo, Gunung Pocoroko, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur - Indonesia. Rumah adat yang berdiameter 15 m dan memiliki 5 lantai ini memang sudah langka dan tinggal hanya beberapa unit saja. Rumah ini biasanya dihuni 6 sampai 8 keluarga. Tetapi yang mengherankan, yang pertama kali menemukan rumah adat ini orang luar, antropolog asal Belanda, Catherine Allerton yang mencari Wae Rebo untuk penelitian.

Karena keunikannya, rumah adat Mbaru Niang mendapat pengharhargaan dari UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya tahun 2012, Wae Rebo mengalahkan pesaing-pesaing seluruh dunia yang tak kalah berkualitas. Selain itu juga sebagai salah satu kandidat peraih Aga Khan untuk arsitektur tahun 2013.

Konstruksi


Rumah adat Mbaru Niang terdiri dari lima lantai dengan tiang utama dari bahan kayu Worok, papan lantai dari kayu Ajang untuk balok-balok dipakai kayu Uwu. Rangka atap dari bambu, ada juga kayu yang berukuran 1 cm, namanya kayu kentil, yang dirangkai membentuk ikatan-ikatan panjang, natinya diikatkan secara horizontal membentuk lingkaran setiap level lantai rumah. Proses pembangunannya dimulai dengan memasang tiang utama (lantai dasar) yang dimasukan kedalam tanah sekitar 1,50 sampai 2.00 meter. Agar tiang-tiang ini tidak mudak lapuk, tiang ini dilapisi ijuk. Lantai dasar berbentuk panggung, kurang lebih 1.20 m dari tanah. Kemudian dipasang balok-balok lantai seterusnya dengan cara yang sama sampai lantai yang terakhir. Tiang disetiap level lantainya tidak menerus, melainkan terputus disetiap lantainya. Setelah setiap lantainya terbentuk lingkaran, proses selanjutnta pemasangan rangka atap atap, bahannya dari bambu. Sebagai catatan, untuk mengikat balok.balok dipergunakan rotan sebagai bahan pengikatnya.

 

Tata Ruang 

Sebagaimana telah disinggung diatas, bahwa rumah adat Mbaru Niang mempunyai 5 lantai, yang setiap levelnya mempunyai nama dan fungsinya masing-masing.
lantai pertama disebut lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga. Tingkat lutur dibagi tiga, bagian depan ruangan untuk bersama, semacam ruang keluarga. Di bagian dalam adalah kamar-kamar yang disekat menggunakan papan, dan dapur di bagian tengah rumah.
lantai kedua berupa loteng atau disebut lobo berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari
lantai ketiga disebut lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan
lantai keempat disebut lempa rae disediakan untuk stok pangan apabila terjadi kekeringan,
lantai kelima disebut hekang kode untuk tempat sesajian persembahan kepada leluhur.
Setiap rumah ada dua pintu, di depan, di belakang, serta empat jendela kecil. Pintu (pintu depan) tiap rumah adat dibangun menghadap ke compang . Compang merupakan titik pusat Kampung Wae Rebo yang berada di batu melingkar di depan rumah utama. Compang merupakan pusat kegiatan warga untuk mendekatkan diri dengan alam, leluhur, serta Tuhan.

 

Akses

Untuk mencapai kampung Wae Rebo, memang cukup melelahkan, perjalanan dimulai dari kota Ruteng dan hanya sampai di desa Denge dengan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Antara Kota Ruteng dengan desa Denge berjarak sekitar 80 km. Dari desa Denge dilanjutkan perjalanan dengan jalan kaki melewati hutan kecil, menyeberangi sungai Wae Lomba, dan dilanjutkan jalan setapak dan menanjak hingga sampai di Wae Rebo. Tetapi setelah sampai di desa Wae Rebo, rasa lelah tersebut terobati dengan sambutan yang ramah dari warga dan keindahan alam kampung Wae Rebo.

florestoday.com, Labuan Bajo - Banyak tempat di Labuan Bajo, Flores yang dapat dijadikan lokasi untuk menghabiskan waktu melihat mata hari tenggelam atau sunset.

Tentang Kami

Sejak tahun 2015 dengan Motto "Explore The Beauty Of Flores" www.florestoday.com berdiri dan berpartisipasi sebagai sarana penyebar informasi, penjalin persatuan bangsa, merawat demokrasi untuk mendukung pembangunan yang dilaksanakan  oleh pemerintah bersama seluruh warga negara.

Kemajuan dan kesejahteraan akan semakin mudah kita capai jika kerjasama diantara kita dapat terjalin dengan baik.

 

Anggota Media Online Indonesia

Kontak Info

Jl. Reklamasi No 8 Kampung Ujung, Labuan Bajo, 

Kec. Komodo, Labuan Bajo,
Manggarai Barat, NTT – Indonesia.
Telp: +6238541736,

Mobile/Whatsapp: 0811922368

Email: redaksi@florestoday.com

Photo Gallery