Admin
Pengungsi Lewotobi Masih Menanti Huntap, Pilih Bertahan Hidup dengan Bertani
FLORESTODAY.COM, NTT – Warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih menunggu kepastian pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang dijanjikan pemerintah.
Ratusan warga yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) tidak dapat kembali ke rumah mereka karena berada di zona bahaya erupsi. Ketidakpastian pembangunan Huntap membuat sebagian warga mulai mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah pengungsi untuk memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar lokasi pengungsian demi tetap produktif dan menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga mereka.
Melihat situasi yang dihadapi para pengungsi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ILMU menyalurkan bantuan berupa peralatan pertanian kepada warga terdampak pada Kamis, 16 Juli 2026, di kawasan Hunian Sementara Lewotobi.
Bantuan yang diberikan berupa parang dan sekop ditujukan agar para petani korban erupsi dapat mulai mengolah lahan pertanian sebagai sumber penghidupan selama menunggu realisasi pembangunan Hunian Tetap.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur diketahui masih memberikan bantuan logistik rutin berupa beras sebanyak 25 kilogram per Kepala Keluarga setiap bulan, minyak goreng, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya bagi para pengungsi.
Namun demikian, bantuan logistik dinilai belum mampu menjawab kebutuhan jangka panjang masyarakat yang hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian tempat tinggal dan sumber penghasilan yang tetap.
Dalam sebuah rekaman video yang diterima media, salah seorang warga mengaku terpaksa meminta izin menggunakan lahan milik keluarga di Desa Konga untuk membangun hunian mandiri bagi istri dan anak-anaknya.
"Saya sekarang di Konga. Saya terpaksa minta lahan ke salah satu keluarga di sini untuk bangun hunian mandiri buat anak istri. Kalau cuma bertahan di Huntara, kami tidak bisa menyambung hidup," ungkap salah seorang warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi.
Warga tersebut juga mengaku belum memperoleh informasi pasti terkait jadwal pembangunan Hunian Tetap yang dijanjikan pemerintah bagi para pengungsi.
"Kami tidak tahu kapan dipindahkan. Jalan menuju lahan Huntap baru saja dibuka, tapi kapan rumahnya dibangun? Kami tidak tahu," ujarnya.
Ketua LSM ILMU, Dionisius Parera, mengatakan bahwa pembagian peralatan pertanian dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi warga yang masih menggantungkan harapan pada proses relokasi yang belum selesai.
"Kemarin kami bagikan peralatan pertanian agar para petani korban letusan Lewotobi bisa mulai menggarap lahan demi mempertahankan hidup," kata Dionisius Parera atau yang akrab disapa Doni dalam keterangan tertulis, dilansir dari suara nusantara Jumat, 17 Juli 2026.
Menurut Doni, bantuan berupa parang dan sekop dipilih agar masyarakat dapat kembali produktif dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan yang disalurkan selama masa pengungsian.
"Sangat sedih melihat mereka hidup dalam ketidakpastian. Dengan alat kerja seadanya ini, minimal mereka punya modal awal untuk menyambung napas secara mandiri," tambahnya.
Ia juga mengajak masyarakat luas untuk turut memberikan perhatian dan dukungan kepada ratusan warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi yang hingga kini masih tinggal di camp pengungsian dan berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sementara itu, pembangunan Hunian Tetap yang menjadi harapan utama para pengungsi masih dinantikan realisasinya. Kepastian waktu pembangunan dan relokasi warga menjadi informasi yang paling ditunggu oleh masyarakat terdampak.
Waerebo, Riang Bao, dan Umauta Wakili NTT di 50 Besar Pejuang Pariwisata 2026
FLORESTODAY.COM, NTT – Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mencatat prestasi di sektor pariwisata setelah tiga tokohnya masuk dalam daftar 50 kandidat terbaik Wonderful Indonesia Award 2026 kategori Local Hero in Tourism berkat kontribusi mereka dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Pariwisata, daftar 50 kandidat terbaik diumumkan pada 3 Juli 2026 setelah melalui proses seleksi yang diikuti 198 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Tiga tokoh yang mewakili NTT tersebut adalah Martinus Anggo dari Desa Adat Waerebo, Kabupaten Manggarai, Sesarius Ketepe dari Desa Riang Bao, Kabupaten Lembata, dan Cletus Beru dari Desa Wisata Umauta, Kabupaten Sikka.
Penetapan para kandidat dilakukan melalui penilaian dewan juri yang mempertimbangkan dedikasi, dampak, inovasi, kolaborasi, keberlanjutan, serta keteladanan dalam mengembangkan sektor pariwisata di daerah masing-masing.
Martinus Anggo dinilai berperan besar dalam mengembangkan Desa Adat Waerebo sebagai destinasi wisata berbasis komunitas melalui pelestarian budaya, revitalisasi rumah adat Mbaru Niang pada 2009–2014, serta sistem pengelolaan wisata yang melibatkan masyarakat sebagai pemandu, porter, dan penyedia layanan bagi wisatawan.
Di Kabupaten Lembata, Sesarius Ketepe mengembangkan ekowisata Desa Riang Bao sejak 2007 dengan menggabungkan konservasi lingkungan, pelestarian tradisi, pemberdayaan masyarakat, wisata bahari, ritual adat Muro, serta pengembangan UMKM, tenun ikat, anyaman lontar, hingga program pelestarian mangrove dan terumbu karang.
Sementara itu, Cletus Beru berhasil menjadikan budaya sebagai fondasi pengembangan Desa Wisata Umauta di Kabupaten Sikka melalui pelestarian tenun ikat Sikka, seni tradisi, pendidikan budaya bagi generasi muda, pemberdayaan pelaku UMKM, serta penggunaan pewarna alami dan revitalisasi kapas lokal sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sumber: Tribunflores.com
BMKG: Hujan Ringan Guyur Sebagian Flores, Kupang Waspada Angin Kencang
FLORESTODAY.COM, NTT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang memprakirakan sebagian wilayah Flores berpotensi diguyur hujan ringan, sementara Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua diminta mewaspadai angin kencang pada 17–18 Juli 2026.
Prakiraan cuaca tersebut berlaku mulai Jumat (17/7/2026) hingga Sabtu (18/7/2026) dan menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengantisipasi potensi perubahan kondisi cuaca di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur.
Forecaster BMKG, Isabela, mengatakan peningkatan kecepatan angin diprakirakan terjadi di beberapa daerah sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
"Waspada potensi angin kencang di wilayah Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua," tulis Isabela dalam laporan prakiraan cuaca resmi BMKG, dikutip Tribunflores.com, Jumat (17/7/2026).
Berdasarkan data BMKG, wilayah Kupang, Oelamasi, Sabu, Ba'a, dan Soe diprakirakan mengalami kecepatan angin hingga 46 kilometer per jam dengan kondisi cuaca didominasi cerah berawan hingga berawan.
Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Flores dan Sumba, terutama Ruteng, Borong, Labuan Bajo, Bajawa, serta Tambolaka.
Wilayah Ruteng dan Borong diprakirakan mengalami hujan ringan pada siang hingga malam hari, sedangkan Labuan Bajo, Bajawa, dan Tambolaka berpotensi diguyur hujan ringan pada siang hari sebelum kembali berawan.
Di wilayah Maumere, cuaca diprediksi cerah hingga cerah berawan sepanjang hari dengan suhu udara berkisar antara 20 hingga 27 derajat Celsius dan angin bertiup relatif tenang.
Kondisi cuaca di Labuan Bajo didominasi cerah berawan dengan suhu udara berkisar 21 hingga 32 derajat Celsius serta angin bertiup dari tenggara hingga utara dengan kecepatan sekitar 5 sampai 10 knot.
Sementara itu, wilayah Sumba diprakirakan mengalami cuaca cerah berawan dengan suhu udara antara 23 hingga 32 derajat Celsius serta angin bertiup dari tenggara hingga timur dengan kecepatan 9 hingga 20 knot.
Wilayah dataran tinggi seperti Ruteng, Bajawa, dan Soe diperkirakan tetap berawan dengan suhu udara yang lebih sejuk dibandingkan daerah pesisir, bahkan pada malam hingga dini hari dapat mencapai 15 derajat Celsius.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi angin kencang di wilayah selatan NTT serta hujan ringan yang berpotensi terjadi di sejumlah daerah Flores dan Sumba.
ASITA NTT Usulkan Kolaborasi Promosi Destinasi Wisata NTT
FLORESTODAY.COM, NTT – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur mengajak pemerintah daerah memperkuat promosi destinasi wisata melalui kolaborasi yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi Sinkronisasi Kegiatan Pariwisata di Kupang, Rabu.
Ketua ASITA NTT, Oyan Kristian, mengatakan organisasinya siap mendukung berbagai festival pariwisata yang diselenggarakan pemerintah kabupaten dan kota untuk memperluas promosi destinasi di NTT.
“ASITA NTT membuka diri untuk berkolaborasi dalam seluruh festival yang diselenggarakan di kabupaten dan kota di NTT. Kami siap terlibat jika Dinas Pariwisata mengundang kami untuk mendukung promosi dan pemasaran,” kata Ketua ASITA NTT Oyan Kristian, dikutip Antaranews.com, Rabu (15/7/2026).
Menurut Oyan, ASITA tetap bersedia berpartisipasi dalam berbagai kegiatan promosi meskipun harus menanggung sendiri biaya keikutsertaan sebagai bentuk dukungan terhadap sektor pariwisata daerah.
Komodo Travel Mart juga diusulkan kembali digelar pada 2027 setelah dua tahun tertunda karena kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada penyelenggaraan kegiatan promosi pariwisata.
"Kami berharap Komodo Travel Mart dapat kembali digelar pada 2027 melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah. Saya juga mengusulkan agar penyelenggaraannya dipusatkan di Sumba dengan melibatkan empat kabupaten di wilayah tersebut," ujarnya.
Selain menghidupkan kembali Komodo Travel Mart, ASITA menyiapkan kerja sama promosi dengan jaringan hotel Archipelago Group untuk memperkenalkan destinasi wisata NTT kepada pasar yang lebih luas.
“Melalui jaringan ini, promosi destinasi NTT dapat dilakukan di Jakarta, Surabaya, dan Bali tanpa membutuhkan biaya besar,” katanya.
ASITA menilai potensi wisata Sumba terus berkembang sehingga berpeluang menjadi tuan rumah Komodo Travel Mart maupun Rapat Kerja Nasional ASITA pada tahun-tahun mendatang.
Organisasi tersebut juga mengusulkan penguatan konektivitas melalui rute kapal cepat Labuan Bajo–Sumba, pengoperasian kembali penerbangan Denpasar–Maumere, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha wisata dalam layanan MICE.
“ASITA NTT berharap sinergi pemerintah, pelaku industri, dan para pemangku kepentingan terus diperkuat untuk meningkatkan promosi dan daya saing pariwisata NTT,” ujarnya.
Pariwisata Premium Perkuat Daya Tarik Flores Barat
FLORESTODAY.COM, MABAR – Pertumbuhan pariwisata premium di Flores Barat pada 2026 semakin membuka peluang investasi di sektor pariwisata dan hospitality seiring meningkatnya konektivitas transportasi dan promosi destinasi.
Flores Barat, khususnya Labuan Bajo, menjadi salah satu kawasan strategis yang terus berkembang sebagai destinasi unggulan wisata premium di Indonesia Timur.
Status Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas turut mendorong pengembangan berbagai sektor usaha yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penumpang angkutan laut di Nusa Tenggara Timur meningkat 56,92 persen pada April 2026 dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, jumlah penerbangan di Nusa Tenggara Timur tercatat meningkat sebesar 0,38 persen, memperkuat aksesibilitas wisatawan dan pelaku usaha menuju Flores Barat sepanjang 2026.
Peningkatan mobilitas wisatawan premium membuka peluang investasi pada sektor vila, resort, hotel, restoran, serta bisnis pendukung pariwisata yang berorientasi jangka panjang.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengatakan, "Setiap aktivitas usaha pariwisata harus tercatat secara akurat dalam Sensus Ekonomi 2026," pada 18 Juni 2026.
Ia juga menyampaikan, "Tourism Outlook 2025 dan Triwulan I 2026 diharapkan dapat membantu pelaku wisata menyusun strategi pengembangan bisnis secara lebih terarah dan berkelanjutan."
Pengembangan pariwisata premium di Flores Barat turut memberikan dampak positif bagi UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Investor memiliki peluang mengembangkan bisnis pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan kualitas layanan, budaya lokal, serta pelestarian lingkungan kawasan wisata Flores Barat.
Dengan dukungan infrastruktur, konektivitas transportasi, dan pengembangan pariwisata premium, Flores Barat memiliki peluang besar untuk menarik investasi baru di Indonesia Timur.



