Baca juga : Tanah Dijual! The Peninsula Labuan Bajo
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Cristin Seran, mengungkapkan bahwa keberadaan awan CB ini dapat mengganggu aktivitas penerbangan. Oleh karena itu, hasil pantauan BMKG akan menjadi pertimbangan penting bagi pihak terkait, termasuk Airnav dan para pilot, dalam menjalankan penerbangan.
"Pada musim hujan, meskipun tidak ada siklon di selatan, penerbangan tetap berpotensi mengalami ketidaknyamanan akibat turbulensi. Sebelum pesawat lepas landas, biasanya sudah ada informasi mengenai prakiraan cuaca dan kondisi cuaca real-time sepanjang jalur penerbangan serta di bandara tujuan,” jelas Maria pada Rabu (12/02).
Maria menambahkan bahwa BMKG selalu berkoordinasi dengan setiap maskapai penerbangan melalui dokumen Flight yang berisi informasi cuaca real-time di bandara tujuan, cuaca sepanjang jalur penerbangan, peringatan badai tropis, sebaran abu vulkanik, serta prakiraan cuaca di bandara yang disertai dengan citra satelit dan radar cuaca.
Ia juga menjelaskan bahwa pesawat komersial umumnya terbang pada ketinggian antara 10 km hingga 12 km di lapisan stratosfer untuk menghindari awan yang dapat menyebabkan guncangan.
Baca juga : Tanah Dijual! Tepi Pantai Pulau Seraya Labuan Bajo
Pada ketinggian ini, cuaca lebih stabil, pesawat dapat terbang lebih cepat, lebih hemat bahan bakar, serta terhindar dari turbulensi, hujan, dan badai yang sering terjadi di lapisan bawahnya, yaitu troposfer.
“Pergerakan angin diperkirakan akan berlangsung hingga 13 Februari. Hujan masih mungkin terjadi karena kita berada di periode puncak musim hujan,” tambahnya.
Pergerakan angin ini disebabkan oleh bibit siklon tropis 96S yang berada di selatan Indonesia, yang berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem berupa hujan dan angin di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), sebelum akhirnya bergeser ke pulau Jawa, pungkas Maria. (Jellu)